Rabu, 25 Januari 2012

STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH (DALAM BIDANG AGAMA, PENDIDIKAN, KESEHATAN, SOSIAL-EKONOMI)

KONSEP DASAR STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH
A.                Konsep Dasar Strategi Dakwah
Dakwah pada dasarnya adalah suatu proses yang berkesinambungan yang merupakan aktivitas dinamis yang mengarah kepada kebaikan, pembinaan dan pembentukan masyarakat yang bahagia dunia dan akhirat melalui ajakan yang kontinyu kepada kebaikan serta mencegah mereka dari hal-hal yang mungkar. Oleh sebab itulah, maka kegiatan dakwah merupakan kewajiban bagi umat Islam secara keseluruhan, baik secara individu sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing maupun secara berkelompok atau kelembagaan yang diorganisir secara rapi dan modern, dikemas secara apik dan profesional serta dikembangkan secara terus menerus mengikuti irama dan dinamika perubahan zaman dan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dan untuk mencapai keberhasilan dakwah, maka efektifitas dan efisiensi dalam menyelenggarakan dakwah merupakan suatu hal yang harus mendapat perhatian dengan diproses melalui strategi dakwah yang mapan. Untuk memperoleh batasan terhadap pengertian strategi dakwah.

B.                 Pengertian Strategi
Perkataan strategi pada mulanya dihubungkan dengan operasi militer dalam skala besar-besaran. Oleh sebab itu, strategi dapat berarti “ilmu tentang perencanaan dan pengarahan operasi militer secara besar-besaran”. Disamping itu dapat pula berarti “kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu”. Sedangkan tujuan suatu strategi ialah untuk merebut kemenangan atau meraih suatu hasil yang diinginkan.
Seperti itu dapat dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya surah an-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH DALAM BIDANG AGAMA, PENDIDIKAN KESEHATAN SOSIAL-EKONOMI
Tantangan Dakwah Dikalangan Internal Umat Islam
Sejak Muhammadiyah berdiri sudah mendapatkan tantangan dakwah di kalangan umat Islam sendiri, yaitu menghadapi sinkretisme (syirik dan khurafat), bid’ah, dan taqlid buta. Kesemuanya itu penyakit umat yang harus diobati dengan telaten dan serius. Penyakit itu ternyata cukup akut karena sudah “membudaya” di kalangan masyarakat, dan oleh masyarakat dipahami itulah ajaran Islam (karena belum faham dengan ajaran dari sumber aslinya). Menghadapi hal ini para mubaligh perlu mengambil langkah yang bijak dengan menggunakan berbagai pendekatan mengadakan pencerahan.
Dalam menghadapi umat Islam yang belum dan masih sungkan menjalankan syari’at/ibadah (Snouck Hurgronje mengatakan abangan), diperlukan suatu strategi dakwah tersendiri, dengan berbagai pendekatan. Sidang Tanwir Bali berupaya mengenalkan bentuk “Dakwah Kultural”. Adapun yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah, pertama: Dakwah Kultural bukan mendakwahkan kebudayaan, namun dakwah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan. Hal ini pun tentunya tidak boleh melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam (strategi dan taktik tidak boleh melanggar prinsip).
Munculnya beberapa kelompok (halaqoh) baru di kalangan umat Islam, juga merupakan tantangan baik bersifat positif maupun negatif. Gerakan dakwah kelompok-kelompok halaqoh yang sejalan dengan Muhammadiyah, dipandang sebagai saudara berkompetisi dakwah “fastabiqul khairat”. Namun bagi berbagai halaqoh yang mengamalkan bid’ah, khurafat, syirik, taqlid, apalagi mengajarkan faham yang menyimpang dari Islam, maka mubaligh Muhammadiyah bertugas untuk mengkonter, dan menyelamatkan umat dari kesesatan. Untuk menghadapi kelompok-kelompok halaqoh ini, para mubaligh Muhammadiyah harus disiapkan benar-benar, dengan memberikan bekal pengenalan terhadap berbagai halaqoh, dan bagaimana cara-cara mengatasinya (baik untuk berkompetisi positif, maupun untuk mengkonternya).

Menghadapi Tantangan Dari Eksternal Umat Islam
Tantangan eksternal yang dihadapi oleh gerakan dakwah Muhammadiyah amatlah banyak dan kompleks. Dari banyak tantangan itu, yang paling menonjol di antaranya ialah gerakan Misi dan Zennding (Kristenisasi), gerakan New Left (yang berlandaskan Marxisme/Komunisme), serta beberapa aliran kebatinan/kepercayaan.
Gerakan Misi dan Zennding merupakan kristenisasi yang terencana dan rapi, didukung dengan dana dari dalam dan luar negeri, yang bertujuan jelas untuk memurtadkan umat Islam di Indonesia. Gerakan kristenisasi ini telah dialami sejak Muhammadiyah lahir sampai masa kini. Jaringan kristenisasi menggunakan prasarana dan sarana yang cukup modern dan didukung oleh tenaga-tenaga ahli pada bidangnya. Mereka telah memiliki pemancar radio misi dan zennding yang ditempatkan pada kota-kota yang strategis yang jangkauannya sampai ke desa-desa. Apabila diijinkan, mereka pun telah siap memiliki TV Rohani (di Kataketik Jogjakarta). Penyiaran melalui majalah dan surat kabar (yang besar; Kompas dan Suara Pembaharuan).
Missionaris Katolik memiliki para penggembala khusus generasi muda, dan pembinaan lingkungan (kring) yang terstruktur rapi, didukung bantuan sosial ekonomi. Sasaran mereka semua adalah masyarakat Islam yang masih awam, sedangkan untuk para cendikiawannya mereka gunakan lembaga-lembaga dialog keakraban, sehingga dengan mudah memikat dan mengadakan brand-washsed terhadap pemikiran cendikiawan kita yang lemah aqidahnya.
Gerakan kristenisasi terselubung juga dilakukan melalui beberapa LSM yang medapatkan bantuan luar negeri, yang secara strategis berupaya melumpuhkan dan melecehkan beberapa ajaran Islam. Dalam hal ini yang membahayakan adalah tersedotnya elemen-elemen di kalangan umat Islam mengikuti langkah-langkah strategis mereka itu.
Dalam menghadapi gerakan kristenisasi ini harus ada komisi khusus yang terintegrasi di kalangan Muhammadiyah (tidak hanya Majelis Tabligh sendiri). Khusus untuk para mubaligh Muhammadiyah dalam menghadapi ini diperlukan pembekalan tentang “Kristologi”, dan argumentasi dialog untuk mematahkannya. Pada akhir-akhir ini dirasakan Muhammadiyah sedikit terlena dalam menghadapi kristenisasi, padahal gerakan itu terus berjalan secara aktif memurtadkan kaum muslimin. Oleh karena itu, mulai sekarang Muhammadiyah harus bangkit kembali untuk menghadapi gerakan kristenisasi, dengan membentuk komisi khusus.
Pada era reformasi digunakan oleh kaum komunis untuk come-back dengan jalan mempopulerkan kembali ajaran Marxisme-Komunisme di kalangan generasi muda (dengan menterjemahkan buku-buku Kiri). Di samping itu, meracuni generasi muda dengan memutar-balikan sejarah tahun 1965 dengan membersihkan nama PKI yang telah berontak. Mereka megadakan training-training perjuangan komunis untuk Indonesia, dengan mengobarkan pembelaan pada rakyat miskin. Adapun lembaga yang digunakan memakai bentuk dan nama organisasi yang berbeda-beda, namun punya hubungan benang merah yang sama, sedangkan induknya pada PRD. Kempanye mereka efektif dan menarik generasi muda, bahkan tidak sedikit generasi muda di kalangan Muhammadiyah yang tertarik. Beberapa mahasiswa perguruan tinggi di kalangan Muhammadiyah juga sering dimasuki oleh mereka.
Daerah pengaruh Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Dahlan (1912-1923) baru terbatas di karisidenan Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan , dan Pekajangan. Cabang cabang Muhammadiyah berdiri di kota kota tersebut (selain Yogyakarta) pada tahun 1922, yaitu di akhir periode kepemimpinan Dahlan. Menjelang tahun 1938 barulah Muhammadiyah tersebar di seluruh Nusantara Dengan demikian sekitar 14 tahun sepeninggal Dahlan, Muhammadiyah sudah mengindonesia.
Dakwah di masa depan bagi Muhammadiyah perlu strategi budaya yang mantap, baik Muhammadiyah cetakan Jawa maupun Muhammadiyah cetakan sabrang sama sama dihadapkan kepada tantangan dakwah yang dahsyat. Proses industrialisasi yang akan dimulai secara besar besaran mulai april 1993 ini akan memberikan pekerjaan rumah (PR) yang sangat berat kepada semua gerakan Islam, khususnya Muhammadiyah, yang menyatakan dirinya sebagai gerakan modern Islam. Kita belum mempunyai contoh kira kira bagaimana nasib Islam di suatu negara Industri. Pada suatu kesempatan pernah saya katakan : apakah pada saat ini kita masih punya peluang untuk beriman? Beriman dengan segala atribut dan implikasinya bukan beriman semata mata percaya kepada Tuhan. Iman dalam Islam adalah Iman yang dapat memberikan suatu keamanan ontologis kepada manusia, dan diatas dasar itu ditegakkan sebuah peradaban yang berwajah ramah.
Bila pengamatan Kuntowijoyo dapat disetujui, maka gambaran tentang Muhammadiyah adalah sebagai berikut : “Sesungguhnya dewasa ini Muhammadiyah sudah harus merumuskan kembali konsep gerakan sosialnya. Saya beranggapan bahwa selama ini Muhammadiyah belum mendasarkan program dan strategi kegiatan sosialnya atas dasar elaboratif. Akibatnya adalah bahwa Muhammadiyah tidak pernah siap merespon tantangan-tantangan perubahan sosial yang empiris yangterjadi di masyarakat atas dasar konsep, teori dan strategi yang jelas. Selama ini umpamanya Muhammadiyah masih belum dapat menerjemahkan siapa yang secara sosial-objektif dapat dikelompokkan sebagai kaum duafa, masakin, fuqoro dan mustadh’afin. Pertanyaan tentang siapakah yang dimaksud dengan kelompok kelompok itu dalam konteks sosialnya yang objektif, belum pernah diaktualisasikan secara jelas”.
Proses industrialisasi bukan saja akan mengubah kawasan agraris menjadi kawasan industri, tapi pada waktu yang sama akan menciptakan sosok manusia “liar” kompetitif yang jarang punya kesempatan untuk tersenyum. Ini jika kita melihat fenomena sosial di beberapa negara Industri :barat dan Jepang. Kita belum dapat memperkirakan secar apasti tentang bagaimana situasinya sekarang sebuah negeri Muslim menjadi negeri Industri. Jika keadaaanya tidak berbeda negeri negeri industri diatas, maka sejak dini kita katakan bahwa Islam pada waktu itu sudah tergusur mejadi kekuatan marginal yang tidak bermakna. Muhammadiyah sampai hari ini belum siap secar amantap dengan strategi budaya untuk menghadapi serba kemungkinan itu. Kendalanya adalah sumberdaya manusia yang ada sedikit sekali punya peluang untuk merenung dan merumuskan strategi itu. Komitmen Islam mereka tidak diragukan lagi. Yang sulit adalah menari peluang yang cukup untuk berfikir serius dan mendalam mengenai maslah Islam dan ummatnya. Sebagian besar kita berada dalam pasungan kesibukan yang non-kontemplatif itu .Saya pribadi tidak tahu bagaimana caranya keluar dari himpitan kesibukan yang amat melelahkan ini.
Apakah Muhammadiyah pernah keluar dari kultur kampung sepanjang sejarahnya? menurut Kuntowijoyo, jawabannya adalah negatif. Dia menulis : “Secara Historis Muhammadiyah sesugguhnya terbentuk dari kultur kampung. Kalau dulu saya pernah mengatakan bahwa kelahiran Muhammadiyah mempunyai hubungan erat dengan lingkungan sosio ekonomi dan kultural masyarakat kiota., pernyataan ini benar dalam hal perbedaanya dengan latar belakang NU yang berbasis pada kultur agraris desa. Tapi pernyataan itu harus direvisi, karena ternyata pada awal abad ke-20, saat ketika Muhammadiyah didirkian di Yogyakarta, kehidupan kota sesungguhnya lebih dikuasai oleh kaum priyayi, komunitas Belanda, dan komunitas Cina. Di Malioboro ada tempat peribadatan Cina, juga tempat peribadatan Free Mansory dari ‘Societeit’ Belanda, tapi tidak ada Masjid. Masjid Besar yang ada di keraton, sementara itu cenderung berada di bawah pengawasan kultural kejawen. Kita melihat bahwa Islam ketika itu merupakan fenomena pinggiran, berada di kampung-kampung”
Dengan demikian sebenarnya basis sosial Muhammadiyah dan NU tidak banyak berbeda yaitu sam sama basis sosial wong cilik. Keadaan ini secara substansial menurut pengamatan saya belum banyak mengalami perubahan, bukan saja di Yogyakarta dan di Jombang, tempat kelahiran kedua gerakan Islam yang dipandang mewakili arus besar Islam di Indeonesia, tapi juga di seluruh nusantara. Kita masih belum beranjak jauh dari kawasan wong cilik. Bagaimana keadaannya 25 tahun mendatang, saya tidak tahu.
Dan jika kita lihat dakwah Muhammadiyah dari segi ekonomi, memang Muhammadiyah adalah ormas yang hebat dalam mengkoordinir masalah ekonomi dalam segi dakwah, salah satu contoh adalah Din Syamsuddin dan orang-orang Muhammadiyah lainnya terlibat dan datang langsung ke Jawa Barat untuk mengunjungi, memberi sumbangan dan posko kesehatan untuk para korban gempa di Cigalontang Tasikmalaya pada tanggal 3 September 2009, ini adalah salah satu wujud dari dakwah Islam dari Muhammadiyah dalam segi kesehatan dan ekonomi dan inilah salah satu kelebihan dari Muhammadiyah.
Dalam penyampaian materinya, pada hari terakhir pengajian ramadhan tahun 2009 di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ahad (30/08) Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Suyanto menyampaikan bahwa sudah saatnya Muhammadiyah untuk fokus pada peningkatan kualitas amal usaha pendidikan.
Menurut Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas ini, dunia pendidikan bergerak dengan sangat dinamis, banyak perubahan-perubahan yang terjadi termasuk tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan swasta lain diluar Muhammadiyah yang menawarkan pilihan-pilihan belajar.
“Jika Muhammadiyah ingin tetap eksis dakwahnya dibidang pendidikan, maka Muhammadiyah harus menawarkan sesuatu yang unik bagi masyarakat. Disamping penanaman nilai agama, pendidikan Muhammadiyah menawarkan bahasa asing dan teknologi informasi yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain, sehingga pendidikan Muhammadiyah memiliki keunggulan” papar mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta ini dengan joke-joke khasnya yang membuat peserta tertawa.
Lebih lanjut Suyanto mengatakan bahwa prasyarat peradaban utama ialah bagaimana membangun budaya belajar dikalangan warga persyarikatan. Minimal dalam keluarga ada ruang belajar yang memungkinkan antara orang tua dan anak belajar bersama.
Sementara pada sesi yang sama, Sekretaris PP Muhammadiyah, A. Dahlan Rais memaparkan bahwa untuk menggerakkan jamaah Muhammadiyah perlu ada muballigh, leader atau pembina yang merupakan kader penggerak, tanpa itu semua, maka konsep dakwah jamaah hanyalah merupakan pepesan kosong.
“Saya menawarkan dua model jamaah yang perlu dikembangkan, yaitu yang bersifat kegamaan-spiritual (majelis taklim) dan sekaligus pemberdayaan sosial ekonomi” tutur dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.
Lebih jauh menurut Dahlan, dengan semangat Al-Maun, fokus gerakan terletak pada pemberdayaan lapisan bawah memecahkan masalah-masalah sosial ekonomi. Yaitu bagaimana kemampuan masyarakat setempat mampu menggali sumber-sumber lokal dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
“Dakwah jamaah harus diletakkan sebagai program unggulan persyarikatan jika ingin berhasil, sebab terlampau berat diserahkan ke satu Majlis tetapi sangat mengkhawatirkan bila menjadi tanggung jawab lintas Majlis karena sebagian besar program lintas Majlis sering tidak berjalan efektif” paparnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!