Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

RIWAYAT PERJALANAN HIDUP DAN PEMIKIRAN IBNU TAYMIYYAH

Kelahiran Ibnu Taymiyyah
Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah. Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz.
Baliau lahir di harran, 10 Rabiul Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.
Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah SWT kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-Qur'an.
Tidak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah mampu memberi fatwa.
Ibnu Taymiyyah amat menguasai Rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul Hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filosof. Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.

Mujahid Dan Mujaddid
Dalam perjalanan hidupnya, beliau juga terjun ke masyarakat menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar. Ia tak mengambil sikap uzlah melihat merajalelanya kema'syiyatan dan kemungkaran. Suatu saat, dalam perjalanannya ke Damaskus, disebuah warung yang biasa jadi tempat berkumpulnya para pandai besi, ia melihat orang bermain catur. Ia langsung mendatangi tempat itu untuk mengambil papan catur dan membalikkannya. Mereka yang tengah bermain catur hanya termangu dan diam.
Beliau juga pernah mengobrak-abrik tempat pemabukkan dan pendukungnya. Bahkan, pernah pada suatu jum'at, Ibnu Taymiyyah dan pengikutnya memerangi penduduk yang tinggal digunung jurdu dan Kasrawan karena mereka sesat dan rusak aqidahnya akibat perlakuan tentara Tar-Tar yang pernah menghancurkan kota itu. Beliau kemudian menerangkan hakikat Islam pada mereka.
Tidak hanya itu, beliau juga seorang mujahid yang menjadikan jihad sebagai jalan hidupnya. Beliau kata: "Jihad kami dalam hal ini adalah seperti jihad Qazan, jabaliah, Jahmiyah, Ittihadiyah dan lain-lain. Perang ini adalah sebagian nikmat besar yang dikaruniakan Allah SWT pada kita dan manusia. Namun kebanyakan manusia tak banyak mengetahuinya."
Tahun 700 H, Syam dikepung tentara Tar-Tar. Ia segera mendatangi walikota Syam guna memecahkan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan mengemukakan ayat Al-Qur'an ia bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu membuat ia dipercaya untuk meminta bantusan sultan di Kairo. Dengan argumentasi yang matang dan tepat, ia mampu menggugah hati sultan. Ia kerahkan seluruh tentaranya menuju Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan yang gemilang.
Pada Ramadhan 702 H, beliau terjun sendiri kemedan perang Syuquq yang menjadi pusat komando pasukan Tar-Tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema mereka berhasil mengusir tentara Tar-Tar. Syuquq dapat dikuasai.

Pandangan Dan Jalan Pikir Ibnu Taymiyyah
Jika kita mengkaji tentang pemikiran Ibnu Taymiyyah, beliau tidak hanya merambah bidang syar'i, tapi juga mengupas masalah politik dan pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syi'ah wal Qadariyah (Jalan Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi'ah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar'iyah (Sistem Politik Syari'ah), Kitab al-Ikhriyaratul 'Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam).
Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syari'at dan aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah SWT. Aliran ini tak percaya pada metode logika rasional yang asing bagi Islam, karena metode semacam ini tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi'in. Baik dalam masalah Ushuludin, fiqih, Akhlaq dan lain-lain, selalu ia kembalikan pada Al-Qur'an dan Hadits yang mutawatir. Bila hal itu tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para sahabat, meskipun ia seringkali memberikan dalil-dalilnya berdasarkan perkataan tabi'in dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan.
Menurut Ibnu Taymiyyah, akal pikiran amatlah terbatas. Apalagi dalam menafsirkan Al-Qur'an maupun hadits. Ia meletakkan akal fikiran dibelakang nash-nash agama yang tak boleh berdiri sendiri. Akal itu tidak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan Al-Qur'an, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh hadits. Akal fikiran hanyalah saksi pembenar dan penjelas akan dalil-dalil Al-Qur'an.
Bagi beliau, tidak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara aqal dan pendengaran (sam'i) maka harus didahulukan dalil qath'i, baik ia merupakan dalil qath'i maupun sam'i.

Polemik Ibnu Taymiyyah
Pribadi Ibnu Taymiyyah memiliki banyak sisi. Sebuah peran yang sering terlihat adalah kegiatannya menentang segala bid'ah, khurafat dan pandangan-pandangan yang menurutnya sesat. Tak heran jika ia banyak mendapat tantangan dari para ulama.
"Sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid'ah, orang-orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah (ahli filsafat), Bathiniyah (pengikut kebathinan), Mulahadah (mereka yang keras menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wahdatul wujud (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, mu'thilah, Mujassamah, Musyibihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain yang terdiri atas orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan, dan mereka yang telah tertarik masuk kedalamnya penuh sesat. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syari'at Muhammad yang suci, yang berada diatas segala agama. Para pemuka aliran sesat tersebut menyebabkan manusia berada dalam keraguan tentang dasar-dasar agama mereka. Sedikit sekali saya mendengan mereka menggunakan Al-Qur'an dan hadits dengan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq yang tak yakin dengan agama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa wajib bagi setiap orang yang mampu untuk menentang kebathilan serta melemahkan hujjah-hujjah mereka, untuk mengerahkan tenaganya dalam menyingkap keburukkan-keburukkannya dan membatalkan dalil-dalilnya." Demikian diantara beberapa pendapatnya yang mendapat tantangan dari mereka yang merasa dipojokkan dan disalahkan.
Tahun 705 H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taymiyyah diuji. Para Qadhi berkumpul bersama sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit antara mereka, akhirnya jelas bahwa Ibnu Taymiyyah memegang aqidah sunniyah salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taymiyyah.
Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taymiyyah terus berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan masyarakat melalui pendapat-pendapatnya yang kontroversial. Sang qadhi yang telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taymiyyah bersalah. Beliau diputuskan tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.
Dalam perjalanan hidupnya, ia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H, berdasarkan fakta yang diputar balikkan, Sultan megeluarkan perintah penangkapannya. Mendengar ini ia berujar, "Saya menunggu hal itu. Disana ada masalah dan kebaikkan banyak sekali."
Kehidupan dalam penjara ia manfaatkan untuk membaca dan menulis. Tulisan-tulisannya tetap mengesankan kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taymiyyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, semua buku, kertas, tinta dan pena-nya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taymiyyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah. Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.
Setelah menderita sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara.
Hari itu, tanggal 20 Dzulqaidah 728 H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak. Para Emir, pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar jenazahnya.

Sabtu, 25 Februari 2012

SISI LAIN PEMIKIRAN ADOLF HITLER

Adolf Hitler adalah seorang diktator yang dikenal oleh banyak orang sebagai orang yang kejam dan bengis yang sangatlah terkenal dengan faham Fasisme. Tetapi disisi lain Adolf Hitler mempunyai sisi lain yang sangat bertolak belakang sejarah yang ada didunia ini. Buku sejarah dunia lebih banyak mencatat sisi kelam dari Adolf Hitler yang terkenal dengan peristiwa pembantaian Yahudi atau dikenal dengan istilah Holocaust.
Jika kita berbicara tentang kebengisan dan pembunuhan umat manusia, di Inggris juga ada yang lebih keji dari itu begitu juga pada masa kekaisaran Jepang. Namun mengapa dunia hanyalah menghukum Adolf Hitler dan menjelek-jelekkan nama Nazi seolah-olah Nazi masih berwujud hingga hari ini sementara dunia melupakan kesalahan Inggris terhadap Skotlandia, Jepang terhadap dunia dan Afrika Selatan terhadap warga kulit hitam-nya?
Prinsip-prinsip Adolf Hitler
Prinsip Adolf Hitler tentang Yahudi, Zionisme dan proses berdirinya negara Israel. Adolf Hitler telah melancarkan Holocaust untuk membasmi Yahudi karena dia beranggapan suatu saat nanti Yahudi akan menjerumuskan umat manusia didunia.
Prinsip Adolf Hitler tentang Islam. Adolf Hitler telah mempelajari sejarah tentang kerajaan dan umat terdahulu, dan dia telah menyatakan bahwa ada tiga peradaban yang terkuat yaitu Persia, Romawi dan Arab. Ketiga peradaban yang terkuat itu telah menguasai dunia pada masa lalu. Sementara Persia dan Romawi masih melanjutkan peradaban mereka hingga hari ini, namun Arab hanya bertengkar dengan sesamanya. Dia melihat ini sebagai satu masalah karena Arab akan merobohkan Peradaban Islam yang dia telah lihat begitu hebat pada masa lalu.
Adolf Hitler merasa kagum akan Peradaban Islam, oleh karena itu dia telah mencetak panduan mengenai Islam dan diedarkan kepada tentara Nazi, walaupun pada waktu itu kepada tentara yang non-Islam.
Dimanapun dia berada, Adolf Hitler juga selalu memberi kesempatan untuk tentara Jerman yang beragama Islam untuk menunaikan sholat ketika sudah masuk waktunya, bahkan tentara Jerman pernah sholat berjama’ah di Lapangan Berlin dan pada waktu itu Adolf Hitler hanya menunggu mereka hingga mereka menyelesaikan sholat berjama’ah untuk menyampaikan pidatonya.
Adolf Hitler juga sering bertemu dengan para Ulama Islam dan meminta pendapat mereka serta belajar dari mereka tentang agama, khususnya Islam dan kisah para sahabat dalam menyusun strategi.
Dia juga meminta para Syaikh untuk mendampingi tentaranya dan mendo’akan mereka yang non- Islam dan memberi semangat kepada tentara Islam untuk memerangi Yahudi.
Pengaruh Al-Quran dalam ucapan Adolf Hitler
Ketika Adolf Hitler dan tentara Nazi tiba di Moscow, dia berniat menyampaikan pidato. Dia memerintahkan para penasihatnya untuk mencari kata-kata pembukaan yang agung dari kitab suci, kata-kata ahli filsafat atau dari bait syair. Seorang sastrawan Iraq yang tanggal di Jerman memberi masukan ayat Al-Qur’an yang artinya adalah “Telah dekat Hari Kiamat dan telah terbelah bulan…”
Adolf Hitler merasa kagum dengan arti ayat Al-Qur’an ini dan menggunakannya sebagai kalimat pembukaan dan isi kandungan pidatonya. Para ahli tafsir Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa ayat Al-Qur’an tersebut bermakna keagungan, kekuatan dan mempunyai arti yang sangat mendalam.
Semua ini dinyatakan Adolf Hitler dalam bukunya Mein Kampf yang ditulis di penjara bahwa segala tindakannya berdasarkan Al-Qur’an khususnya tindakannya terhadap kaum Yahudi.
Adolf Hitler bersumpah dengan nama Allah SWT
Adolf Hitler telah mengatakan sumpah dengan menyebut nama Allah SWT di dalam ikrar pimpinan tentaranya yang akan tamat belajar di Akademi tentara Jerman.
“Saya bersumpah dengan nama Allah (Tuhan) yang Maha Besar dan inilah sumpah suci saya, bahwa saya akan mematuhi semua perintah pimpinan tentara Jerman dan pemimpinnya  (saya) Adolf Hitler, panglima tertinggi, akan selalu bersedia untuk mengorbankan nyawa saya kapanpun demi kepemimpinan saya”.
Adolf Hitler juga pantang meminum arak ketika dia gemetar saat keadaan pasukan Jerman sedang goncang dan berbahaya. Waktu itu para dokter memintanya meminum arak sebagai obat dan beliau menolak sambil berkata, “Bagaimana anda ingin menyuruh seseorang minum arak untuk pengobatan sedangkan dia seumur hidupnya tidak pernah menyentuh arak” . Adolf Hitler tidak pernah menyentuh arak sepanjang hidupnya, minuman kegemarannya adalah hanya teh celup.
Sebagai orang yang terikat dengan akademik, kita bisa mempelajari sisi baik dari sang diktator ini, meskipun Adolf Hitler mempunyai sejarah yang sangat jelek dimata orang-orang akan tetapi kita juga bisa memetik kebaikan darinya itu. Wallahu a’lam.

Jumat, 24 Februari 2012

RIWAYAT IMAM GHOZALI DAN NABI MUSA AS

قال الشيخ العارف ابو الحسن الشاذلى قدس سره رأيت النبى صلى الله عليه وسلم فى النوم باهى موسى وعيسى عليهما السلام بالامام الغزالى قدس سره وقال أفى امتكما حبر كذا قالالا
Inilah yang diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan, dari hikayat beliau bahwasannya Nabi Muhammad SAW sangatlah bangga dengan Imam Ghozali di hadapan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS, beliau berkta kepada Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS, apakah ada ulama-ulama di ummatmu yang seperti ini? Keduanya menjawab tidak ada Ya Rasulullah.
Pada suatu kesempatan Nabi Musa AS tidak terima terhadap ucapan Nabi Muhmmad tadi bahwa "Ulama-ulama ummatnya setingkat atau sebanding dengan nabi-nabi Bani Israril, kemudian Nabi Musa AS berkata kepada Nabi Muhmmad SAW "Mana ulamamu tunjukkah satu saja kepadaku". Lalu nabi menunjuk Imam Ghozali, kemudian Nabi Musa AS bertanya nama kepada Imam Ghozali "Imam Ghozali menjawbnya dengan lengkap dan panjang, Nabi Musa AS akhirnya mengkritik bahwasannya ditanya hanya satu pertanyaan tetapi dijawabnya 10, Imam Ghozali balik mengkritik Nabi Musa AS karena beliau ditanya dengan satu pertanyaan oleh Allah SWT akan tetapi beliau menjawab dengan jawaban yang panjang dan bayak, yakni ketika Allah SWT bertanya kepada Nabi Musa AS "Apa yang ada ditangan kananmu wahai Musa?” dan pada waktu itu Nabi Musa AS menjawab:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآَرِبُ أُخْرَى
“Ini adalah tongkat untuk bersandar, menggembala kambing dan untuk kepentingan lainya” padahal harusya cukup dijawab tongkt saja, dan pada waktu itu Nabi Muhammad SAW sangat bangga dengan Imam Ghozali.

Rabu, 25 Januari 2012

PEMIKIRAN KEISLAMAN PADA PERIODE NABI DAN KHULAFAUR RASIYIDIN

Nabi Besar Muhammad SAW merupakan teladan bagi seluruh umat muslim di dunia, tidak terkecuali para pemimpin-pemimpin umat yang harus meneladani sosoknya dari segi pemikiran yang dianggap oleh para sejarawan sebagai pemikiran seorang reformis.
            Nabi Muhammad SAW berhasil menjadikan kota Madinah menjadi kota yang maju dan berpenduduk majemuk. Saat di kota itulah beliau melakukan perubahan secara prinsip dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, Nabi Muhammad melakukan reformasi yang hasilnya menjadikan Kota Madinah sebagai kota yang maju dan terdepan.
            Sedikitnya ada tiga pilar akhlak mulia Rasulullah SAW yang sangat kokoh, yaitu kejujuran, tanggungjawab dan kebersamaan. ketiga pilar itulah yang harus kita pegang dan kita jadikan beliau sebagai teladan para pemimpin, sebagai landasan moral dalam pembangunan. Karena hilangnya kejujuran hanya akan menimbulkan kebohongan dan penghianatan. Hilangnya tanggungjawab dari seorang pemimpin, hanya akan meruntuhkan suatu bangsa. Kemudian hilangnya kebersamaan akan mengakibatkan kesenjangan social dan konflik berkepanjangan.
Oleh karena itu, para ilmuan islam sepakat bahwa Madinah adalah negara Islam yang pertama, dan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW setelah hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah adalah memimpin masyarakat Islam dan memerankan dirinya bukan hanya sebagai utusan Allah semata, tetapi juga sebagai kepala negara Islam di kota Madinah.

Pemikiran Reformis dan Landasan Politik di Masa Rasulullah
            Ada beberapa langkah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin masyarakat setelah hijrahnya ke Madinah, beberapa kejadian sebelum hijrah dan menegaskan bahwa beliau adalah kepala sebuah masyarakat. Beberapa bukti tersebut, diantaranya adalah:
1.      Bai’at Aqabah
Pada tahun ke-11 kenabian, ada enam orang dari suku Khajraz di Madinah bertemu dengan Rasul di Aqabah, Mina. Mereka datang untuk berhaji. Sebagai hasil perjumpaan itu, mereka semua masuk Islam. Dan mereka berjanji akan mengajak penduduk Yathrib untuk masuk Islam pula. Pada musim haji berikutnya, dua belas laki-laki penduduk Madinah menemui Rasul ditempat yang sama, Aqabah. Mereka, selain masuk Islam, mereka juga mengucapkan janji setia (bai’at) kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berdusta, dan tidak mengkhianati Nabi. Inilah Bai’at Aqabah Pertama. Kemudian pada musim haji berikutnya sebanyak tujuh puluh lima penduduk Madinah yang sudah masuk Islam berkunjung ke Makkah. Rasul menjumpai mereka di Aqabah. Di tempat itu mereka mengucapkan bai’at tersebut, yang isinya sama dengan bai’at yang pertama, hanya saja pada yang kedua ini ada isyarat jihad. Mereka berjanji akan membela Nabi sebagaimana membela anak istri mereka, bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah Kedua.

2.      Piagam Madinah
Umat Islam memulai hidup bernegara setelah Rasulullah hijrah ke Yathrib, yang kemudian berubah menjadi Madinah. Di Madinahlah untuk pertama kali lahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka di bawah pimpinan Nabi Muhammad, Penduduk Madinah ada tiga golongan. Pertama kaum muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan ini adalah kelompok mayoritas. Kedua, kaum musyrikin, yaitu orang-orang suku Aus dan Kharaj yang belum masuk Islam, kelompok ini minoritas. Ketiga, kaum Yahudi yang terdiri dari empat kelompok. Satu kelompok tinggal di dalam kota Madinah, yaitu Banu Qunaiqa. Tiga kelompok lainnya tinggal di luar kota Madinah, yaitu Banu Nadlir, Banu Quaraizhah, dan Yahudi Khibar. Jadi Madinah adalah masyarakat majemuk. Setelah sekitar dua tahun berhijrah Rasulullah memaklumkan satu piagam yang mengatur hubungan antar komunitas yang ada di Madinah, yang dikenal dengan Piagam (Watsiqah) Madinah.Inilah yang dianggap sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia. Piadam Madinah ini adalah konstitusi negara yang berasaskan Islam dan disusun sesuai dengan syariat Islam.

3.      Peran Sebagai Kepala Negara
  1. Dalam negeri
Sebagai Kepala Negara, Rasul mengerti akan arti pengembangan sumber daya manusia, sehingga didapatkan manusia yang tangguh adalah penanaman aqidah dan ketaatan kepada Syariat Islam. Disinilah Rasulullah, sesuai dengan misi kerasulannya memberikan perhatiaan utama. Melanjutkan apa yang telah beliau ajarkan kepada para sahabat di Makkah, di Madinah Rasul terus melakukan pembinaan seiring dengan turunnya wahyu. Rasul membangun masjid yang dijadikan sebagai sentral pembinaan umat. Diberbagai bidang kehidupan Rasulullah melakukan pengaturan sesuai dengan petunjuk dari Allah SWT. Di bidang pemerintahan, sebagai kepala pemerintahan Rasul mengangkat beberapa sahabat untuk menjalankan beberapa fungsi yang diperlukan agar manajemen pengaturan masyarakat berjalan dengan baik. Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai wazir. Juga mengangkat beberapa sahabat yang lain sebagai pemimpin wilayah Islam, diantaranya Muadz Bin Jabal sebagai wali sekaligus qadhi di Yaman.

  1. Luar Negeri
Sebagai Kepala Negara, Rasulullah melaksanakan hubungan dengan negara-negara lain. Rasulullah mengirimkan sekitar 30 surat kepada kepala negara lain, diantaranya kepada Al Muqauqis Penguasa Mesir, Kisra Penguasa Persia dan Kaisar Heraclius, Penguasa Tinggi Romawi di Palestina. Nabi mengajak mereka masuk Islam, sehingga politik luar negeri negara Islam adalah dakwah semata.

4.      Penegakkan Hukum
Hukum Islam ditegakkan oleh Rasul atas semua warga, termasuk non muslim di luar perkara ibadah dan aqidah. Tidak ada pengecualian dan dispensasi. Tidak ada grasi, banding, ataupun kasasi. Tiap keputusan Qadhi adalah hukum syara’ yang harus dieksekusi. Peradilan berjalan secara bebas dari pengaruh kekuasaan atau siapapun.

Pemikiran Keislaman Masa Khulafaur Rasyidin: 632-661 / 11 - 40 H (29 Tahun)
            Selepas wafat Rasulullah s.a.w, para sahabat menyambung kepemimpinan dengan mereka melantik Abu Bakar As-Siddiq sebagai khalifah yang menjalankan pemerintahan negara Islam yang kemudian dilanjutkan dengan para sahabat yang lain yakni Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib.
            Para sahabat sepakat untuk tidak membuat kevakuman dalam kedudukan khalifah tidak lebih dari tiga hari. Perhatian utama ini jelas terlihat ketika pengangkatan (pembai'atan) Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai khalifah, sahabat Sa'id bin Zaid berkata: "Mereka (kaum Muslimin) tidak suka hidup barang seharipun tanpa adanya pemimpin jama'ah (khalifah)".
            Meskipun Abu Bakar memerintah kaum muslimin dalam tempo yang sangat singkat, tetapi banyak hal yang bisa diselesaikan. Ancaman disintegrasi (pemurtadan), kerusuhan rasial antar suku dan golongan, dan berbagai gejolak dalam negeri segera dapat diatasi.
            Pemikiran dan kehidupan perpolitikan masa kekhalifahan Khulafaur Rasyiddin, berlandasankan Al Qur’an serta Sunnah Rasulullah, kehidupan bermasyarakat dibangun dengan empat pilar pemerintahan, antara lain:
1.      Kedaulatan di tangan syara’.
2.      Kekuasaan milik ummat.
3.      Mengangkat Khalifah hukumnya fardhu bagi seluruh kaum muslimin.
4.      Hanya khalifah yang berhak melakukan adopsi terhadap hukum-hukum syara’.
            Dengan keempat pilar ini pemerintahan ditegakkan atas wilayah-wilayah yang menjadi bagian negara Islam yang semakin meluas. Dengan adanya daulah Islam dengan keempat pilarnya tersebut kepentingan Islam, yaitu tegaknya hukum Islam di muka bumi dapat dilaksanakan. Setiap takluknya suatu wilayah menjadi negeri Islam, maka syariat Islam langsung ditegakkan di sana. Dan berbondong-bondong bangsa masuklah kedalam naungan Islam. Masuknya manusia ke dalam Islam secara berbangsa ini adalah hal yang sulit dibayangkan bagaimana terjadinya di masa kini serta berbondongnya manusia memeluk suatu agama hanyalah terjadi kepada Islam.
            Dalam kehidupan masyarakat, hukum Islam tetap ditegakkan sebagai satu-satunya hukum yang mengatur masyarakat Islam, walaupun semakin banyak suku bangsa yang masuk dalam daulah Islam. Dengan hukum-hukum Islam maka keadilan Tasyri’ dapat ditegakkan pula. Piagam Madinah yang mencerminkan keragaman masyarakat yang ada tetap menjadi rujukan dengan tidak mengutamakan satu suku bangsa diantara yang lain, juga tidak merendahkannya dibandingkan yang lain.
            Secara terperinci, pemikiran Islam dari Khulafaur Rasyidin dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Khalifah Abu Bakar.
Dari penunjukkan Umar sebagai penggantinya, ada hal yang perlu dicatat :
  1. Abu Bakar dalam menunjuk Umar tidak meninggalkan azas musyawarah.ia lebih dahulu mengadakan konsultasi untuk mengetahui aspirasi rakyat melalui tokoh-tokoh kaum muslimin.
  2. Abu Bakar tidak menunjuk salah seorang putranya atau kerabatnya melainkan memilih seseorang yang disegani oleh rakyat karena sifat-sifat terpuji yang dimilikinya.
  3. Pengukuhan Umar sebagai khalifah sepeniggal Abu Bakar berjalan baik dalam suatu bai’at umum dan terbuka tanpa ada pertentangan dikalangan kaum muslimin sehingga opsesi Abu Bakar untuk mempertahankan keutuhan umat Islam dengan cara penunjukkan itu terjamin.

2.      Khalifah Umar Bin Khatab.
Sebagai seorang negarawan yang patut diteladani.ia telah menggariskan :
  1. Persyaratan bagi calon Negara.
  2. Menetapkan dasar-dasar pengelolaan Negara.
  3. Mendorong para pejabat Negara agar benar-benar meperhatikan kemaslahatan rakyat dan melindungi hak-haknya karena mereka adalah pengabdi rakyat dan bagian dari rakyat itu sendiri.
  4. Pejabat yang dipegang seseorang adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada tuhan dan rakyat.
  5. Mendidik rakyat supaya berani memberi nasihat dan kritik kepada pemerintah,pemerintah juga harus berani menerima kritik dari siapapun sekalipun menyakitkan karena pemerintah lahir rakyat dan untuk rakyat.
  6. Khalifah Umar telah meletakkan dasar-dasar pengadilan dalam islam.

3.      Khalifah Usman bin Affan.
Setelah Usman bin Affan dilantik menjadi khlifah ketiga Negara madinah ,ia menyampaikan pidatonya yang menggambarkan dirinya sebagai sufi, dan citra pemerintahannya lebih bercorak agama ketimbang politik belaka sebagai dominan.dalam pidato itu usman mengingatkan beberapa hal yang penting :
  1. Agar umat islam berbuat baik sebagai bekal untuk hari kematian.
  2. Agar umat islam terpedaya kemewahan hidup dunia yang penuh kepalsuan.
  3. Agar umat islam mau mengambil pelajaran dari masa lalu.
  4. Sebagai khalifah ia akan melaksanakan perintah al-quran dan sunnah rasul.
  5. Di samping ia akan meneruskan apa yang telah dilkukan pendahulunya juga akan membuat hal baru yag akan membawa kepada kebajikan.
  6. Umat islamboleh mengkririknya bila ia menyimpang dari ketentuan hukum.

4.      Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Umat yang tidak punya pemimpin dengan wafatnya Utsman, membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah baru. Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah pendahulunya.ia di bai’at di tengah-tengah kematian usman, pertentangan dan kekacauandan kebingungan umat islam Madinah.sebab kaum pemberontak yang membunuh Usman mendaulat Ali supaya bersedia dibaiat menjadi khalifah. Dalam pidatonya khalifah Ali menggambarkan dan memerintahkan agar umat islam :
  1. Tetap berpegang teguh kepada al-quran dan sunnah rasul.
  2. Taat dan bertaqwa kepada Allah serta mengabdi kepada Negara dan sesame manusia.
  3. Saling memelihara kehormatan di antara sesame muslim dan umat lain.
  4. Terpanggil untuk berbuat kebajikan bagi kepentingan umum.
  5. Taat dan patuh kepada pemerintah. 

Selasa, 24 Januari 2012

NABI DAN RASUL

A.                Arti Nabi Dan Rasul
Secara bahasa Rasul artinya seorang laki-laki yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Sedangkan pengertian rasul dalam syari’at islam adalah seorang laki-laki yang mendapatkan wahyu dengan syari’at islam dari Allah SWT serta diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia. Rasul yang pertama adalah Nabi Adam AS, sedangkan rasul yang terakhir adalah Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 163 yang artinya : “Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud”.
Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 40 yang artinya : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Nabi secara istilah adalah seorang laki-laki yang mendapatkan berita dari Allah ta’ala dengan syari’at islam untuk sendiri dan tidak diwajibkan oleh Allah untuk diajarkan kepada umat manusia dengan kata lain manusia yang memperoleh wahyu dari Allah SWT tentang agama islam dan misinya atau bisa dikatakan seorang yang diberi wahyu oleh Allah SWT dengan suatu syari'at namun tidak diperintah untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya.
Setiap rasul adalah sudah pasti nabi namun sebaliknya tidak. Rasul diutus kepada orang yang belum mengenal agama Allah SWT dan syari’at-Nya atau kepada orang-orang yang telah mengubah syariat dan agama dalam rangka mengajari dan mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar. Maka rasul adalah hakim di antara mereka. Sedangkan nabi hanya diutus untuk mendakwahkan syariat sebelumnya yang sudah ada.
Nabi dan rasul dalam ajaran islam wajib kita percayai karena terdapat pada rukun iman yang ke-4. Nabi serta rasul dalam menyampaikan dan menerima wahyu dari Allah SWT selalu dijaga dari perbuatan dosa dan salah yang disebut dengan ma'shum.
Rasul itu sendiri berjumlah 25, yaitu :


1.      Adam AS.
2.      Idris AS.
3.      Nuh AS.
4.      Hud AS.
5.      Soleh AS.
6.      Ibrahim AS.
7.      Luth AS.
8.      Ismail AS.
9.      Ishak AS.
10.  Yakub AS.
11.  Yusuf AS.
12.  Ayub AS.
13.  Sueb AS.
14.  Musa AS.
15.  Harun AS.
16.  Zulkifli AS.
17.  Daud AS.
18.  Sulaiman AS.
19.  Ilyas AS.
20.  Ilyasa AS.
21.  Yunus AS.
22.  Zakaria AS.
23.  Yahya AS.
24.  Isa AS.
25.  Muhammad SAW.





B.                 Sifat-Sifat Nabi Dan Rasul
Sifat-sifat para nabi dan rasul Allah SWT :
1.                  Siddiq.
Siddiq berarti benar dan perkataan dan perbuatan. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rasul adalah seorang pembohong yang suka berbohong.
2.                  Amanah.
Amanah artinya terpercaya atau dapat dipercaya. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rasul adalah seorang pengkhianat yang suka khianat.
3.                  Tabligh.
Tabligh adalah menyampaikan wahtu atau risalah dari Allah SWT kepada orang lain. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rasul menyembunyikan dan merahasiakan wahyu atau risalah Allah SWT.
4.                  Fathonah.
Fathonah adalah cerdas, pandai atau pintar. Jadi mustahil jika seorang nabi dan rasul adalah
seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa.

C.                Tugas-Tugas Para Nabi Dan Rasul
Dalam menjalankan perintah Allah SWT untuk berdakwah dan menjalankan semua perintah-perintah-Nya tentunya para nabi dan rasul mempunyai visi dan misi yang harus mereka pegang sebagai salah satu pegangan dalam menghadapi umat-umatnya. Dalam hal ini para nabi dan rasul sudah diterangkan tugas-tugasnya oleh Allah SWT, tugas-tugas nabi dan rasul adalah :
1.                      Menyampaikan kabar gembira / risalah mengenai janji akan kebahagiaan dan kenikmatan abadi jika mau melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya.
2.                      Memberi kabar buruk dan peringatan bagi yang tidak mau mengikuti perintah Allah SWT dengan ancaman dan penderitaan yang tidak berkesudahan dan pedih.
D.                Mukjizat-Mukjizat Nabi Dan Rasul
Mukjizat dashyat seperti angin topan, hujan batu, sampai menghidupkan mayat adalah beberapa tanda kekuasaan Allah SWT melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Mukjizat yang dimiliki para Nabi dan Rasul diberikan langsung oleh Allah SWT agar manusia semakin bertambah imannya dan tidak menyekutukan-Nya. Mukjizat-mukjizat para Nabi dan Rasul diantaranya adalah:
1.                      Nabi Nuh AS yaitu perahu besarnya saat banjir besar yang menghancurkan suatu kaum.
2.                      Nabi Saleh AS yaitu Unta yang keluar dari batu.
3.                      Nabi Ibrahim AS yaitu cerdas dan tidak bisa dibakar api.
4.                      Nabi Yusuf AS yaitu memiliki separuh ketampanan di dunia dan kemampuan meramal mimpi.
5.                      Nabi Ayyub AS yaitu ulat ditubuhnya.
6.                      Nabi Musa AS yaitu bisa membelah lautan.
7.                      Nabi Daud AS yaitu tangan yang mampu melunakkan besi.
8.                      Nabi Sulaiman AS yaitu mampu mengendarai angin dan bisa berbicara dengan hewan.
9.                      Nabi Isa AS yaitu bisa menghidupakan orang yang sudah mati.
10.                  Nabi Muhammad SAW yaitu bisa membelah bulan, bisa mengeluarkan air disela-sela jarinya dan mukjizat Al-Qur’an.
E.                 Ulul Azmi
Ulul Azmi adalah gelar yang diberikan kepada para rasul yang memiliki ketabahan dan kesabaran yang luar biasa baiknya dalam menjalankan dakwah islam.
Nama-nama Nabi dan Rasul yang Mendapat Gelar Ulul Azmi adalah :
1.                  Nabi Nuh AS.
2.                  Ibrahim AS.
3.                  Nabi Musa AS.
4.                  Nabi Isa AS.
5.                  NAbi Muhammad SAW.

F.                 Cara Mengimani Nabi Dan Rasul
Ada beberapa cara untuk mengimani Nabi dan Rasul :
1.         Mengimani bahwa risalah mereka adalah hak dari sisi Allah, maka barangsiapa yang mengingkari risalah salah satu saja di antara mereka sama saja dia telah kafir kepada mereka semua. Allah berfirman dalam Surat asy-Syu’ara’ ayat 105 yang artinya :  “Kaum Nuh mendustakan seluruh rasul.”
2.         Mengimani rasul yang kita ketahui namanya, dan apabila tidak kita ketahui maka kita mengimani mereka secara global.
3.         Membenarkan berita yang benar-benar diberitakan oleh mereka.
4.         Mengamalkan syari’at rasul yang diutus kepada kita yaitu Nabi Muhammad SAW.

Iman kepada rasul membuahkan berbagai faidah di antaranya :
1.     Mengetahui rahmat Allah ta’ala dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya di mana Allah mengutus untuk mereka para rasul yang menunjukkan kepada mereka kepada jalan Allah dan menjelaskan kepada mereka tata cara beribadah kepada-Nya
2.     Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini
3.     Mencintai para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam dan mengagungkan mereka, memuji mereka dengan pujian yang sepantasnya karena mereka adalah para utusan Allah yang telah menunaikan dengan baik kewajiban beribadah kepada-Nya serta menyampaikan risalah kepada umat manusia.

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!