Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

APA SIH PERBEDAAN SIFAT AR-RAHMAN DAN AR-RAHIM ALLAH SWT?


Jika kita melihat terjemah Al-Qur’an pada awal surat atau khususnya di ummul-Qur’an (Surat Al-Fatihah), pada ayat pertama kita akan mendapati Basmalah. Nah kalau kita membaca makna dari Basmalah itu secara teliti kita akan menemukan makna dari lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahim, makna dari keduanya adalah yang maha pengasih dan maha penyayang.
Apa sih perbedaan maha pengasih dan maha penyayang? Secara harfiyah keduanya memang sama tapi dalam segi af’al keduanya memang ada perbedaan yang sangat signifikan. Mari kita telaah hal ini dengan ilmu nahwu sharaf atau ilmu tentang gramatikal bahasa Arab.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
          Makna dari الرَّحْمَنِ adalah yang maha pengasih sedangkan makna dari الرَّحِيمِ adalah yang maha penyayang. Sebenarnya Allah SWT mempunya perbadaan dalam sifatnya itu, jika Allah SWT mempunyai sifat الرَّحْمَنِ maka Allah SWT adalah maha pengasih, dalam tanda kutip Dia mengasihi seluruh makhluk ciptaanya dalam dunia dan akhirat, dengan kata lain manusia baik itu Islam atau kafir, hewan-hewan serta tumbuh-tumbuhan. Sedengkan jika Allah bersifat الرَّحِيمِ maka Allah SWT adalah maha penyayang, tapi dalam tanda kutip Dia hanya mengasihi seluruh umat Islam dan hanya pada saat di akhirat nanti.
            Kita ambil sebuah contoh, dalam hidup ini banyak sekali orang-orang kafir yang memang sukses dan kaya akan tetapi kita tidak bisa menganggap kalau Allah SWT tidak adil, Allah SWT adalah dzat yang maha adil. Kenapa seperti itu? Jawabannya karena Allah SWT mempunyai sifat الرَّحْمَنِ sehingga Allah SWT mengasihi orang-orang kafir yang memang sukses dan kaya itu karena mereka juga memang makhluk Allah SWT akan tetapi hal ini hanya berlaku di dunia. Sebaliknya, Allah SWT hanya menyayangi umat Islam disaat mereka berada dalam kesusahan waktu di akhirat kerena Allah SWT mempunyai sifat الرَّحِيمِ.
            Setidaknya seperti diatas kalau kita kaji makna dari kedua sifat itu, memang secara global keduanya mempunyai makna yang bisa dibilang sama tapi keduanya memang mempunyai makna yang jauh berbeda dalam kenyataannya. Wallahu A’lam.

AYO PERTEBAL KWALITAS TAQWA KEPADA ALLAH SWT


Allah SWT tidak pernah melihat seseorang dari sisi tingginya seseorang itu dalam jabatan, kekayaan dan kemuliaan keduniawian lainnya. Meskipun ada seseorang yang jabatannya itu tinggi di dunia ini dan sangatlah kaya akan harta, bagi Allah SWT itu belum tentu mulia dihadapan-Nya. Allah SWT hanya melihat tingginya kemuliaan seseorang itu hanya dari sisi ketaqwaan.
Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al-Qur'an pada surat Al-Khujurat ayat 13 yang berbunyi:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Yang artinya adalah:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”.
Oleh karena itu dalam hidup ini marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan demi menggapai ketaqwaan yang tinggi disisi Allah SWT. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur'an pada surat Al-Baqarah ayat 148 yang berbunyi:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Yang artinya adalah:
“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Sebagai umat manusia khususnya umat Islam, wajar jikalau kita benar-benar ingin meraih kenikmatan Syurga-Nya, maka dari itu marilah kita pertebal kwalitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagai rasa syukur kita atas Allah SWT yang memberikan nikmat setiap waktu kepada kita. Wallahu A’lam.

TAUKAH ANDA MAKNA SPESIFIK DARI LAFADZ ALHAMDULILLAH?



Lafadz الْحَمْدُ  dalam lafadz الْحَمْدُ لِلَّهِ khususnya dalam awal surat Al-Qur’an mempunyai makna yang sangat umum. Setidaknya ada beberapa makna yang spesifik untuk menafsirkan lafadz itu. Lafadz الْحَمْدُ  mempunyai empat makna yang memang terkaji dalam ilmu nahwu dan sharaf.
Yang pertama, lafadz الْحَمْدُ  yang berari pujian, atau biasa diartikan dengan kalimat segala puji ditafsirkan dengan pujian dari Allah SWT kepada dirinya sendiri atau Allah SWT kepada Allah SWT sendiri.
Yang kedua, lafadz الْحَمْدُ  yang berari pujian, atau biasa diartikan dengan kalimat segala puji ditafsirkan dengan pujian dari Allah SWT kepada makhluk atau Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya.
Yang ketiga, lafadz الْحَمْدُ  yang berari pujian, atau biasa diartikan dengan kalimat segala puji ditafsirkan dengan pujian dari makhluk kepada Allah SWT atau seluruh makhluk-Nya kepada Allah SWT.
Dan yang keempat, lafadz الْحَمْدُ  yang berari pujian, atau biasa diartikan dengan kalimat segala puji ditafsirkan dengan pujian dari makhluk kepada makhluk atau seluruh makhluk-Nya kepada makhluk yang lain
Setidaknya itulah makna dari lafadz الْحَمْدُ  yang bisa ditafsirkan secara rinci. Dari Allah SWT untuk Allah, dari Allah SWT untuk makhluk-Nya, dari makhluk untuk Allah SWT dan yang terakhir dari makhluk untuk makhluk lain. Wallahu A’lam.

Minggu, 23 September 2012

JANGAN MENYERAH! SEMANGATLAH KAWAN

Dalam hidup terkadang kita sering mendapati hal-hal yang selalu menghambat perjalan kita karna hidup penuh dengan cobaan yang selalu menguji kita, nah disitu kita akan mendapatkan penghargaan dari Allah SWT apabila kita bisa melewatinya dengan baik.
Allah SWT selalu memberikan cobaan yang selalu setara dengan kemampuan kita. Tidak mungkin Allah SWT memberikan cobaan diatas kekuatan kita. Maka dari itu sabar, ikhlas, tawaqal dan ikhtiar adalah kunci tuk menghadapi cobaan yang diberikan-Nya itu.
Allah pernah berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Yang Artinya: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar: 53)
Dari Ayat diatas, Allah SWT mengajarkan kita supaya kita tidak putus asa dalam rahmatnya, jangan kita merasa putus asa dalam menjalankan hidup yang penuh cobaan ini. Karena kunci dari semua itu adalah sabar, ikhlas, tawaqal dan ikhtiar, sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta maha pengampun atas dosa-dosa kita. Wallahu A’lam.

MOTIVASI HIDUP DARI SANG KHOLIK; PEDOMAN TUK MERAIH RAHMAT-NYA

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. Ar-Ra’du: 11)
Jika kita telaah lebih dalam, ayat diatas mengandung motivasi untuk seluruh umat manusia yang ada didunia ini untuk selalu berusaha, karena usaha mengandung sebuah nilai primer dalam menghadapi kehidupan ini.
Sebagai manusia memanglah kita diberi akal dan fikiran untuk memilih pilihan dalam menjalankan hidup ini akan tetapi disisi lain Allah SWT juga mempunyai otoritas sebagai Sang Pencipta Hidup, Dia mempunyai Qodar untuk mengatur kehidupan manusia dan tugas manusia hanya berusaha, tawaqal, ikhtiar dan berdo’a kepadanya.
Kita ambil sebuah contoh, misalkan kita ingin memilih atau mendapatkan A dalam hidup ini, belumlah mesti pilihan kita itu akan tercapai, oleh karena itu, kita sebagai manusia yang diberi akal dan fikiran kita harus berusaha untuk mendapatkan A itu, dengan usaha dan do’a niscaya Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk kita itu.
Oleh karena itu, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah SWT karena hal itu akan menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Kita harus selalu berusaha dan berpasrah diri kepadanya untuk semua hal, dengan iman Insya Allah do’a kita akan terkabul, sesungguhnya Allah SWT maha mendengar, jadi do’a kita pasti terkabul semua meskipun bukan pada saat yang kita inginkan, salah jika Allah SWT tidak mengabulkan do’a kita. Wallahu A’lam.

Minggu, 24 Juni 2012

KEAJAIBAN SAINTIFIK AL-QUR'AN

Kita sebagai penganut agama Islam harusnya berbangga karena mempunyai kitab suci yang benar untuk pedoman hidup. Lihatlah sebahagian dari hasil penelitian seorang cendekiawan Islam terhadap kandungan Al-Qur’an. Terlihat banyak perkara telah disentuh dan telah dibuat kajian oleh manusia seperti astronomi, angkasa lepas, perubatan, geologi, kejuruteraan dan sebagainya.  Bilangan tentang perkara yang disebutkan didalam Al-Qur’an yakni:
Dunia - 115 kali
Akhirat - 115 kali

Hidup - 145 kali
Mati - 145 kali

Malaikat - 88 kali
Syaitan - 88 kali

Faedah - 50 kali
Kerugian - 50 kali

Ummah - 50 kali
Penyampai - 50 kali

Iblis : Penghulu Syaitan - 11 kali
Mohon Perlindungan Daripada Iblis - 11 kali

Bala/Musibah - 75 kali
Bersyukur - 75 kali

Bersedekah - 73 kali
Berpuas Hati - 73 kali

Orang Yang Sesat - 17 kali
Orang Yang Meninggal Dunia - 17 kali

Muslimin - 41 kali
Jihad - 41 kali

Emas - 8 kali
Kemurahan Hidup - 8 kali

Keajaiban - 60 kali
Fitnah - 60 kali

Zakat - 32 kali
Berkat - 32 kali

Minda - 49 kali
Nur - 49 kali

Lidah - 25 kali
Sumpah - 25 kali

Nafsu - 8 kali
Ketakutan - 8 kali

Bercakap Di Khalayak Ramai - 18 kali
Berdakwah - 18 kali

Kesusahan - 114 kali
Kesabaran - 114 kali

Muhammad - 4 kali
Syariat - 4 kali

Lelaki - 24 kali
Perempuan - 24 kali

Sholat - 5 kali

Bulan - 12 kali

Hari - 365 kali

Lautan - 32 kali
Daratan - 13 kali

Laut dan Darat = 32 + 13 = 45
Justeru itu, persentase laut = 32/45 x 100 = 71.11111111 persen
Persentase daratan = 13/45 x 100 = 28.88888889 persen
Jumlah = 100 persen
Kajian sains yang dilakukan manusia telah membuktikan bahwa air meliputi 71.111 persen dari pada bumi dan tanah meliputi 28.889 persen.

Itulah keajaiban Al-Qur’an jika kita kaji melalui saintifik. Dan Allah memang maha benar dengan apa yang Ia ciptakan. Wallahu a’lam.

Jumat, 06 April 2012

PERBEDAAN AYAT MAKIYAH DAN MADANIYAH DALAM AL-QUR'AN

Latar Belakang
Banyak ideologi di bumi ini yang terus berkembang demi melanjutkan dan mempertahankan kehidupan di muka bumi. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan empiris dan rasionalis untuk menjawab tantangan zaman yang terus berjalan. Dimensi ideologi yang kita kenal yaitu Komunisme, Liberalisme, Feodalisme, dan lain-lain. Semua ideologi tersebut sudah dijalankan di beberapa negara tetapi hampir semuanya berdampak negative bagi negara-negara yang menumbuhkan ideologi tersebut. Di dalam makalah ini penulis akan memperkenalkan civilizisme dalam islam untuk mencari kemaslahatan untuk umat muslim di dunia khususnya di Indonesia. Civilizisme dalam islam yang dimaksud yaitu hukum syari (premier things) yang bersumber dari al-Quran. Kenapa al-Quran disebut “Premier Things” untuk kaum muslim ? Karena semua solusi dari permasalahan hidup termaktub dalam kitab yang juga dikenal al-Furqan (pembeda) tersebut.
Di dalam al-Quran terdapat dua terminology yaitu fase makkiyah dan fase madaniyah, dimana keduanya memiliki perbedaan kandungan isi. Umumnya Surah-surah yang tertata rapih di dalam Al-quran berkaitan dengan kedua terminologi tersebut. Melalui makalah ini penulis akan menganalisis kedua fase tersebut untuk memperkokoh civilizime dalam islam.
Kajian Teori
1.      Terminologi Surah-surah ”Makkiyah dan Madaniyah”
Sebelum kita lebih jauh mengenal dari pada ayat-ayat makkiyah dan madaniyah maka kita akan analitis terlebih dahulu kedua terminologi ”Ayat-ayat Makkiyah dan Madiniyah” dengan menggunakan beberapa sumber yang reliable.
Menurut Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan : Surah Makkiyah yaitu surah-surah yang turun/ datang sebelum adanya perintah hijrah ke madinah, meski turunnya diluar di luar kota Makkah. Surah-surah Madaniyah yaitu surah-surah yang turun /datang sesudah adanya perintah hijrah, meski turunnya di dalam kota Makkah.
Menurut Aminuddin : Di dalam referensi lain, masa turunnya al-Quran dapat dibagi ke dalam dua priode pertama disebut priode Makkiyah, yaitu masa ayat-ayat yang turun ketika Nabi Muhammad SAW masih bermukim di mekah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, persisnya sejak 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai permulaan Rabi’ul Awal 54 dari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Periode kedua disebut periode Madaniyah, yaitu masa ayat-ayat yang turun setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, persisnnya dari permulaan Rabi’ul Awal tahun 54 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah tahun 63 dari kelahiran nabi Muhammad atau 10 hijriyah.
Melalui kedua pandangan ulama diatas maka dapat kita maknai bahwa ayat-ayat Makkiyah itu turun sebelum adanya perintah hijrah dan tentang hukumnya yang diturunkan di Makkah tetapi menyangkut penduduk Madinah. Sedangkan Ayat-ayat Madaniyah itu turun sesudah adanya perintah hijrah dan tentang hukumnya yang diturunkan di Madinah tetapi menyangkut penduduk Makkah.

2.      Ciri-ciri ayat-ayat ”Makkiyah dan Madaniyah”
Syekh Abdurrahman telah menjelaskan ciri-ciri secara umum pada ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sebagai berikut.
Surah-surah Makkiyah terdiri dari berbagai macam ciri-ciri, diantaranya :
·         Mengesakan Allah.
·         Mengajak ke khittah islam.
·         Tentang hari kiamat.
·         Serta memuat kisah-kisah tentang para nabi terdahulu.
·         Surat-surat Makkiyah mencapai 2/3 satu mushaf al-Quran.
·         Pada umumnya pendek-pendek ayatnya.
Adapun surah-surah madaniyah memiliki ciri-ciri, diantaranya :
·         Pada umumnya ayat-ayatnya panjang.
·         Menjelaskan hukum-hukum waris.
·         Pembatasan atau peraturan pada agama.
·         Hak-hak yang diperoleh kaum muslim.
·         Menjelaskan tentang Jihad fi sabilillah.
KH. Quraish Syihab juga mencirikan secara detail tentang surah-surah Makkiyah dan Madaniyahnya sebagai berikut :
Ciri-ciri khusus Makkiyah sebagai berikut :
·         Mengandung ayat Sajadah
·         Terdapat lafaz Kalla
·         Terdapat seruan ayuhannas dan tidak terdapat ya-ayyuhallazina amannuu, terkecuali dalam surah al-Hajj yang diakhirnya terdapat ya Ayyuhalladzinina aamannu irka’u wasjudu(ayat 77 s.22). kebanyakan ulama mengatakan bahwa surat itu Makkiyah. Surat-surat yang dikecualikan ialah surat al-Baqarah (ayat 21 nya diawali dengan ya ayyuhannas dan ayat 168) dan surah an-Nissa ayat 33.
·         Mengandung kisah nabi-nabi dan umat yang telah lalu, terkecuali surah al-baqarah.
·         Terdapat kisah Adam dan Idris, terkecuali surah al-Baqarah.
·         Surat-suratnya dimulai dengan huruf at-Tahajji, terkecuali surah al-Baqarah dan Ali imran.
Ciri-ciri khusus surat Madaniyah :
·         Di dalamnya terdapat izin berperang, atau ada penerangan tentang hal perang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
·         Di dalamnya terdapat penjelasan bagi hukuman-hukuman tindak pidana, faraid hak-hak perdata, peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan, dan kenegaraan.
·         Di dalamnya tersebut tentang orang-orang munafik, kecuali surat al-Ankabut yang diturunkan di mekkah.
·         Di dalamnya didebat para ahli kitab dan mereka diajak tidak berlebih-lebihan dalam beragama, seperti kita dapati dalam surah al-Baqarah, An-Nissa, Ali Imran, Attaubah, dll.
3.      Perbedaan Al-Maky wal Madany
No Al-Makiyah Al-Madaniyah
·         Kebanyakan konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yg didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yg tegas. Ex: Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar. kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Ex: di surat Al-Maa’idah.
·         Kebanyakan adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Ex: surat Ath-Thuur. kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum2 dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dgn kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.
·         Berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu. berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar .
·         Turun sblum hijrah mskpun bkn di Mekah Turun sesudah hijrah mskpun bkn di Madinah
·         Turun di mekah dan sktarnya: mina,arafah,hudaibiyah Turun di madinah dan sktarnya : Uhud , Quba
·         Seruannya ditujukan kpda penduduk mekkah Seruannya ditujukan kpda penduduk madinah
·         Mengandung ayat sajdah Berisi kewajiban dan sanksi
·         Mengandung lafal ‘kalla’ 33x dlm 15 surat Menyebutkan orang-orang munafik
·         Mengandung yaa ayyuhan nas dan tdk mngndung yaa ayyuhal ladziina aamanu Suku kata dan ayatnya panjang2 dan dgn gaya bhasa ug memantapkan syariat dan menjelaskan tujuan
·         Mengandung kisah para nabi dan ummat Terdapat dialog dgn ahli kitab
·         Mengandung kisah adam dan iblis Menyingkap perilaku orang munafik
·         Surah dibuka dengan huruf-huruf singkatan seperti alif lam mim menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan
·         Berisi ajakan kpd tauhid dan beribadah kpda Allah Warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional
·         Peletakan dasar-dasar umum perundang-undangan tentang ahli ktab dari yahudi dan nasrani
4.      Objek Kajian Ulama Tentang Makiyah dan Madaniyah
·         Yang terpenting dalam objek kajian para ulama dalam pembahasan ini ialah :
·         Yang dirunkan di mekkah
·         Yang diturunkan di Madinah
·         Yang diperselisihkan
·         Ayat-ayat Makkiyah dalam surat-surat madaniyah
·         Ayat-ayat madaniyah dlam surat-surat Makkiyah
·         Yang diturunkan di Makkah namun hukumnya Madaniyah
·         Yang diturunkan di Madinah namun hukumnya Makkiyah
·         Yang serupa dengan yang diturukan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
·         Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah
·         Yang dibawa dari Mekkah ke Madinah
·         Yang dibawa dari dari madinah ke mekkah
·         Yang turun di waktu malam dan di waktu malam dan siang
·         Yang turun di musim panas dan musim dingin
·         Yang turun waktu menetap diperjalanan
5.      Marhalah pada Surat Makkiyah dan Madaniyyah
Terdapat 3 klasifikasi mengenai marhalah pada Surat-surah Makkiyah dan Madaniyah yang termaktub dalam al-Quran, Diantaranya :
·         Marhalah Ibtidaiyah
·         Marhalah Mutawasitah
·         Marhalah Khitamiyah
Diantara surat-surat yang disepakati ahli sejarah dan ahli tafsir, bahwa surat-surat itu dari permulaan wahyu, atau surat-surat yang tergolong ke dalam surat-surat yang turun dalam Marhalah ibtidaiyah :
·         Al-Alaq
·         Al-Muddatstsir
·         At-takwir
·         Al-A’la
·         Al-lail
·         Al-Insyirah
·         Al-Adiyat
·         At-takasur
·         An-Najm
Di antara surat-surat dalam marhalah mutawasithah di Mekkah, ialah :
·         Abasa
·         At-tin
·         Al-Qariah
·         Al-Qiyamah
·         Al-Mursalat
·         Al-Balad
·         Al-Hijr
Di antara surat-surat yang turun dalam marhalah khitamiyah di Mekkah, ialah :
·         As-Shaffat
·         Az-Zukhruf
·         Ad-Dukhan
·         Adz-Zariyat
·         Al-Kahfi
·         Ibrahim
·         As-Sajadah
Ketiga kelompok ini, walaupun nampak tanda-tanda diturunkan di Mekkah, namun kelompok-kelompok ini masing-masing mempunyai perbedaan dari yang lain dalam segi isi dan uslub. Masing-Masing mempunyai ciri-ciri dan tekanan tertentu.
6.      Manfaat Mengetahui Pembagian Makkiyah Dan Madaniyah
Pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah adalah bagian dari ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting. Hal itu karena pada pengetahuan tersebut memiliki beberapa manfaat, di antaranya.
·         Nampak jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.
·         Nampak jelas puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.
·         Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
·         Membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.
7.      Surat-surat yang tergolong Makkiyah dan Maddaniyah
Surat-surat al-makky : Al-Fatehah, Al-An’aam, Al-A’raaf, Yunus,Huud,Yusuf, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl, Al-Isroo’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiya’, Al-Mu’minuun, Al-Furqaan, Asy-Syu’aro’, An-Naml, Al-Qashash, Al-Ankabuut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajdah, Sabaa, Al-Faathir, Yaasiin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-Zumar, Ghaafir, Fushshilat, Asy-Syuuroo, Az-Zukhruf, Ad-Dukhoon, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar, Al-Waaqi’ah, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Ma’aarij, Nuuh, Al-Jin, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Muraasalaat, An-Naba’, An-Naazi’aat ,Abasa,At-Takwiir, Al-Infithaar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq,Al-Buruuj, Ath-Thaariq, Al-A’laa, Al-Ghaasyiyah, Al-Fajr,Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Al-’Ashr, At-Tiyn,Al-’Alaq, Al-Qadr, Al-’Aadiyaat, Al-Qaari’ah, At-Takatsur, Al-Ashr,Al-Humazah, Al-Fiyl, Quraisy, Al-Maa’uun, Al-Kautsar, Al-Kaafiruun,Al-Masad, Al-Ikhlaash, Al-Falaq, An-Naas.
Surat-surat al-madany : Al-Baqarah,Ali Imran,An-Nisaa’,Al-Maa`idah,Al-Anfaal,At-Taubah, Ar-Ra’d, Al-Hajj, An-Nuur,Al-Ahzaab, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujuroot, Ar-Rahman, Al-Hadiid, Al-Mujaadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, Al-Jumu’ah, Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaaq, At-Tahriim, Al-Insaan, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, An-Nashr.
8.      Penjelasan singkat kekhususan surah-surah Makkiyah dan Madaniyah
·         Ayat-ayat Makkiyah dalam Surah Madaniyah
Dari sekian contoh-contoh dalam surat Madaniyah, ialah surat al-Anfal adalah Madaniyah, tetapi banyak ulama mengecualikan ayat :
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika orang kafir (quraisy) membuat maker terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat maker, tetapi Allah mengagalkan makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar. (al-Anfal :30)
Mengenai ayat ini Muqatil mengatakan ”Ayat ini diturunkan di Makkah, zahirnya menunjukan demikian sebab ia mengandung makna apa yang dilakukan oleh orang-orang musrik di ”Darun Nadwah ketika mereka merencanakan makar tehadap Rasulullah sebelum Hijrah.
·         Ayat-ayat Madaniyah dalam surah Makkiyah
Di dalam Surah al-Hajj adalah Makkiyah. Tetapi ada tiga ayat yang madaniyah, yaitu ayat 19-21,
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيد
·         Yang serupa dengan yang dirurunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Yang dimaksund oleh para ulama di sini ialah ayat-ayat yang terdapat dalam surat Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri-ciri umum seperti surat Makkiyah. Contohnya di dalam firman Allah dalm surah Al-Anfal yang madaniyah,
”Dan (ingatlah) ketika mereka golongan musrik-berkata, ”Ya Allah, Jika benar Al-Quran ini dari Engkau, Hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (Al-Anfal:32)
Hal ini dikarenakan permintaan kaum musrikin untuk disegerakan azab adalah di Makkah.
·         Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah
Yang dimaksud oleh apara ulama, ialah kebalikan dari yang sebelumnya. Mereka memberi contoh dengan firman Allah dalam surah An-Najm,
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan-kesalahan kecil”. (an-Najm :32)
Menurut As-Suthi, perbuatan keji ialah setiap dosa yang ada sangsinya. Dosa-dosa besar ialah setiap dosa yang mengakibatkan siksa neraka. Dan kesalahan-kesalahan kecil ialah apa yang terdapat diantara kedua batas dosa-dosa di atas. Sementara itu di Makkah belum ada sangsi yang serupa dengannya.
Kesimpulan
Melalui pemaparan pada bab sebelumnya maka pada bab III penulis akan mengambl sebuah kesimpulan untuk melengkapi makalah ini. Kita dapat simpulkan bahwasnnya surat-surat Makkiyah adalah surat-surat yang turun sebelum adanya hijrah, namun ada beberapa ayat di dalam surat-surat Madaniyah yang termasuk ayat Makkiyah. Sedangkan Surat-surat Madaniyah adalah surat-surat yang turuh sesudah adanya hijrah, namun ada beberapa ayat di dalam surat Makkiyah yang termasuk ayat Madaniyah. Pada umumnya surah-surah Makkiyah mudah dihafal karena ayat-ayat pendek sedangkat sebaliknya pada surat Madaniyah ayat-ayatnya terlalu panjang.

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!