Jumat, 25 Mei 2012

PERTEMUAN ISLAM DAN BUDAYA DALAM PEWAYANGAN

Baru-baru ini kita di kagetkan kembali oleh ulah “Negeri Jiran” yang mengaku-ngaku warisan budaya adi luhung  milik bangsa ini, khususnya budaya jawa, yaitu wayang. Wayang sendiri bukan asli berasal dari jawa. Tradisi ini, sebagian ahli mengatakan berasal dari India dan sebagian mengatakan berasal dari Cina. Tradisi ini datang ke Indonesia khususnya di Jawa, bersamaan dengan penyabaran agama Hindu-Budha di tanah air. Ada beberapa negara di Asia Tenggara yang mempunyai tradisi pewayangan diantaranya, Thailand dan Myanmar. Akan tetapi, bentuk wayang Indonesia dan dibeberapa tempat yang lain bebeda-beda dan masing-masing mempunyai ciri khusus tersendiri.
Diakui bahwa wayang merupakan kebudayaan Jawa yang paling kompleks dan canggih. Selain itu, wayang bisa lebih jernih mendefinisikan, dibandingkan dengan hal apapun, apa artinya menjadi orang Jawa. Kebanyakan sarjana barat memegangi pandangan ini. Wayang juga merupakan salah satu media kultural melaluinya konsep kerajawian diartikulasikan di kawasan pedesaan.
Wayang pra-Islam
Sebagaimana dipercaya oleh orang-orang bahwa wayang di Indonesia merupakan warisan budaya Hindu-Budha. Hal ini diketahui melalui literatur peninggalan pujangga-pujangga kerajaan Majapahit (Hindu). Pada masa keemasannya, Majapahit mempunyai beberapa pujangga yang terkenal diantaranya adalah Mpu Sindok dan Mpu Tantular. Diantara karya-karyanya adalah Harjuna Wiwaha, Bharata Yuda (disinyalir terjemahan dari buku/kitab yang berasal dari India) dan lain-lain.
 Wayang pada masa Islam
Sebagaimana masa-masa sebelumnya, wayang dalam Islam bukan hanya tontonan tanpa makna, akan tetapi itu merupakan bagian dari transformasi keilmuan (pendidikan) serta media dakwah. Pada masa Islam tradiai wayang didasarkan pada doktrin sufi mengenai kesempurnaan manusia, sebagaimana lakon Dewa Ruci dan Kalimosodo. Pada masa ini wayang mengalami Islamisasi oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo. Diantara bentuk pengislaman wayang adalah, dalam pewayangan pra-Islam diceritakan bahwa salah seorang putri raja dijadikan isteri dari kelima Pandawa sekaligus (poliandri). Setelah wayang di Islam-kan putri tersebut diposisikan sebagai isteri dari Pandawa yang tertua, yaitu Yudhistira.
Cerita dan lakon wayang merupakan simbol-simbol dari kearifan sang pencipta wayang. Begitupun Sunan Kalijaga, beliau menjadikan wayang sebagai wahana dakwah sekaligus  transformasi keilmuan bagi masyarakat pedesaan melalui metaphor-metaphor yang diterjemahkan sendiri dan mudah dipahami masyarakat umum. Diantara metapor-metaphor tersebut adalah mengenai tokoh punakawan; Semar, Petruk, Bagong, Nala Gareng. Runtutan nama dari mereka dimaknai dengan
سمرفاترك البغي نال الخير
سمر                : Semar
فاترك                 : Petruk
البغي                 : Bagong
نال الخير            : Nala Gareng
Yang artinya: “Bergegaslah kamu tinggalkan perbuatan tercela, maka kamu memperoleh kebaikan”
Oleh karena itu, wayang  melalui tokoh dan ceriteranya adalah kaca benggala bagi kehidupan soerang anak manusia di muka bumi. Wayang tidak bisa dipahami ala kadarnya, akan tetapi membutuhkan pikiran mendalam dan akal sehat. 

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!