Kamis, 06 Desember 2012

APAKAH ANDA TAHU, BAGAIMANA JASAD KITA DI ALAM KUBUR NANTI?

Setiap makhluk yang bernyawa, pasti akan merasakan yang namany mati, itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam Al-Kitab-Nya. Sewaktu kita hidup, sedemikian rupa kita merawat dan menjaga tubuh atau jasad ini dengan sebaik mungkin dan setelah kita mengalami kematian sudah tidak lagi kita melakukan hal itu, lalu bagaimanakah jasad kita setelah kita di alam kubur nanti? Inilah fase-fase sejak malam pertama masuk ke kuburan hingga 25 tahun.
Malam Pertama, di kuburan pembusukan dimulai pada daerah perut dan kemaluan. Perut dan kemaluan adalah dua hal terpenting yang anak cucu Adam ini saling bergulat dan menjaganya di dunia. Dua hajat, yang karenanya Allah SWT membuat manusia merugi di dunia akan membusuk pada malam pertamanya di kuburan. Setelah itu, mulailah jasad berubah warna menjadi hijau kehitaman. Setelah berbagai make up, dan alat-alat kecantikan membuatnya memiliki ragam pesona, nanti tubuh manusia hanya akan memiliki satu warna saja.
Malam Kedua, di kuburan, mulailah anggota-anggota tubuh membusuk seperti: limpa, hati, paru-paru dan lambung.
Hari Ketiga, di kuburan, mulailah anggota-anggota tubuh itu mengeluatkan bau busuk tidak sedap.
Seminggu Setelahnya, wajah mulai tampak membengkak, dua mata, kedua lisan dan pipi.
Setelah 10 hari, tetap terjadi pembusukan kali ini pada anggota-anggota tubuh tersebut, perut, lambung, limpa.
Setelah 2 Minggu, rambut jasad mulai rontok.
Setelah 15 Hari, lalat hijau mulai bisa mencium bau busuk jasaddari jarak 5 km, dan ulat-ulat pun mulai menutupi seluruh tubuhnya.
Setelah 6 Bulan, yang tersisa dari jasad hanya rangka tulang saja.
Setelah 25 Tahun, rangka tubuh ini akan berubah menjadi semacam biji, dan di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat kecil disebut ‘ajbudz dzanab (tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah azza wa jalla pada hari kiamat.
Inilah tubuh yang selama ini kita jaga dan kita rawat dengan begitu baik. Inilah tubuh yang kita berbuat maksiat kepada Allah SWT dengannya. Oleh karena itulah, jangan biarkan umur kita melewati jasad ini sia-sia, karena dia akan mendapatkan apa yang telah disebutkan.
            Wallahu A’lam.

ADAKAH DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA?

Pada suatu senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa. Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk. Air matanya berderai tatkala berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah saya. Doakan agar Allah mengampuni dosa keji saya.”
“Apakah dosamu wahai wanita?” Tanya Nabi Musa. “Saya takut mengatakannya,” jawab wanita itu. “Katakanlah, jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.
Maka perempuan itu pun dengan takut bercerita, “Saya telah berzina.” Kepala nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. “Dari perzinaan itu saya hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai mati,” lanjut perempuan itu seraya menangis.
Mata Nabi Musa berapi-api. Dengan muka yang berang dia menghardik: “Perempuan celaka, pergi dari sini. Agar Siksa Allah tak jatuh ke dalam rumahku. Pergi...!!!” teriak nabi Musa sambil berpaling karena jijik.
Hati perempuan itu bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh. Dia menangis tersedu-sedu dan keluar dari Rumah Nabi Musa. Ia Tak tahu harus kemana lagi mengadu. Bahkan dia tak tahu ke mana harus melangkahkan kaki. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana manusia lain bakal menerimanya?
Sepeninggalnya wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar dari itu?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?”. “Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang hina itu?” Tanyanya. “Ada” jawab Jibril dengan tegas. “Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina.”
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa memanggil wanita tadi, lalu berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT. Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa penyesalan seakan menganggap remeh perintah Allah. Sedangkan bertaubat dan menyesali Dosa dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin Allah SWT itu ada.
Wallahu A’lam.

ADA TUJUH CARA RASULULLAH SAW MENJAGA KESEHATAN DIRI

SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasulullah mengajak umatnya untuk bangun sebelum Subuh bagi melaksanakan sholat sunnah, sholat fardhu dan sholat Subuh secara berjemaah.
Hal ini memberi hikmah yang mendalam antaranya mendapat limpahan pahala, kesegaran udara Subuh yang baik terutama untuk merawat penyakit tibi serta memperkuatkan akal fikiran.
AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasulullah sentiasa bersih dan rapi. Setiap Kamis atau Jum'at, Baginda mencuci rambut halus di pipi, memotong kuku, bersikat serta memakai minyak wangi.
“Mandi pada hari Jum'at adalah sangat dituntut bagi setiap orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan pemakai harum-haruman.” (HR. Muslim)
TIDAK PERNAH MAKAN BERLEBIHAN
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).” (Muttafaq Alaih)
Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk tiga benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.
Bahkan ada satu pendidikan khusus bagi umat Islam iaitu dengan berpuasa pada Ramadan bagi menyeimbangkan kesehatan selain Nabi selalu berpuasa sunnah.
GEMAR BERJALAN KAKI
Rasulullah berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan mengunjungi rumah sahabat. Apabila berjalan kaki, peluh pasti mengalir, roma terbuka dan peredaran darah berjalan lancar.
Ini penting untuk mencegah penyakit jantung. Berbanding kita sekarang yang lebih selesa menaiki kenderaan. Kalau mau meletakkan kenderaan, mesti letak betul-betul di hadapan tempat yang hendak kita pergi.
TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah ‘jangan marah’ diulangi sampai tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kesihatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan perasaan marah iaitu dengan mengubah posisi ketika marah, bila berdiri, maka hendaklah kita duduk dan apabila sedang duduk, maka perlu berbaring. Kemudian membaca Ta’awwudz karena marah itu daripada syaitan, segera mengambil wudhu’ dan sholat dua rakaat bagi mendapat ketenangan serta menghilang kan gundah di hati.
OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis memberikan kesan emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa selain perlu banyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakkal kepada Allah SWT.
PEMAAF
Pemaaf adalah sifat yang sangat dituntut bagi mendapatkan ketenteraman hati dan jiwa. Memaafkan orang lain membebaskan diri kita daripada dibelenggu rasa kemarahan.
Sekiranya kita marah, maka marah itu melekat pada hati. Justru, jadilah seorang yang pemaaf kerana yang pasti badan sehat.
 “Bahagia sebenarnya bukan mendapat, tetapi dengan memberi. Sebenarnya, banyak lagi cara hidup sehat Rasulullah. Semoga hati kita semakin dekat dengan Nabi yang amat kita rindukan pertemuan dengannya.”
Wallahu A’lam.

ADA EMPAT MACAM SHODAQOH DALAM HIDUP INI

Sebagai umat islam kita seharusnya sudah tidak asing lagi dengan BAZIS, yakni Badan Amil Zakat, Inffak dan Shodaqoh. Ya, salah satunya adalah shodaqoh yang dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah Sedekah.
Ada berapa sih macam-macam shodaqoh itu jika kita pandang dari ukuran pahala? Inilah macam-macam shodaqoh itu jika kita pandang dari ukuran pahala dalam syari’at Islam.
1.      Shodaqoh berpahala 10.
Berpahala 10, bagi Shodaqoh yang diberikan kepada fakir miskin.
2.      Shodaqoh berpahala 70.
Berpahala 70, bagi Shodaqoh yang diberikan kepada sanak kerabat.
3.      Shodaqoh berpahala 700.
Berpahala 700, bagi Shodaqoh yang diberikan kepada sesama saudara.
4.      Shodaqoh berpahala 7000.
Berpahala 7000, bagi Shodaqoh yang diberikan kepada penuntut ilmu.
Oleh karena itu, maka barangsiapa mempunyai harta, bershodaqoh lah dengan hartanya, barangsiapa mempunyai ilmu, bershodaqoh dengan ilmunya dan barangsiapa mempunyai kekuatan, bershodaqoh dengan kekuatannya.
Wallahu A’lam.

Jumat, 02 November 2012

BISAKAH UMUR ITU BERTAMBAH DENGAN DO’A?


Pernahkah kita berfikir apa bisa umur kita itu bertambah panjang dengan do’a? Dalam hidup, kita sering mendengar orang yang merayakan ulang tahun dan pada saat itu orang-orang disekitarnya bersama-sama dengan rasa suka cita menyanyikan lagu yang mengandung do’a panjang umur. Apa do’a panjang umur itu bisa Allah SWT kabulkan sehingga orang yang kita do’akan itu akan bertambah panjang umurnya?
Dalam syari’at Islam, kita boleh merayakan hari lahir kita sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita hidup sampai sekarang meskipun pada kenyataannya hari yang kita rayakan itu lambat-laun malah lebih dekat dengan hari ajal kita.
            Islam memang membolehkan kita berdo’a untuk panjang umur, tapi taukah anda makna dari do’a tersebut? Dalam Islam, do’a panjang umur yang selalu kita panjatkan kepada Allah SWT itu sebenarnya bukan berarti Allah SWT akan memanjangkan umur kita karena ajal kita sudah ditentukan oleh-Nya, do’a tersebut dipanjatkan kepada Allah SWT guna sisa umur kita yang ada didepan akan lebih barokah dan berarti bukannya umur kita tambah panjang.
            Oleh karena itu, mari kita selalu berdo’a kepada-Nya agar umur kita didepan akan lebih barokah dan berarti. Amin.
Wallahu A’lam.

BAGAIMANA PENYAKSIAN KITA TERHADAP UCAPAN SYAHADAT KITA?


Syahadat adalah penyaksian kita terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW. Apakah kita sudah bersaksi atas Allah SWT dan Rasulullah SAW? Pernahkah kita melihat Allah SWT dan Rasulullah SAW sehingga kita harus mengucapkan penyaksian itu khususnya untuk para Mu’alaf?
Pernahkah kita berfikir hal yang seperti itu? yakni bagaimana kita bersaksi bahwa Allah SWT adalah tuhan kita dan Nabi Muhammad adalah Rasul kita? Lalu bagaimana agar penyaksian atau syahadat kita itu memang benar-banar valid dan murni?
Sebagai umat Islam kita harus pasrah dan ikhlas kepada Allah SWT, itu kunci pertama. Dan yang kedua adalah cara penyaksian kita atas Allah SWT adalah tuhan kita dan Nabi Muhammad adalah Rasul kita, yakni dengan cara selalu menjalani syari’at-syari’at Islam dan menjalankan sunnah Rasulullah. Dengan demikian kita sudah menjalankan penyaksian kita terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW. Selain hablum minallah kita juga harus melaksanakan hablum minannas, yakni selalu menjalin tali silaturrahim.
Wallahu A’lam.

Pasang Kode Iklan sobat yg berukuran 120 x 600 disini!!!